Perangkat BK

Media bimbingan klasikal yang inovatif meningkatkan keaktifan siswa.

Double Track Tata Busana SMAN 1 Sampung

Proyek penelitian SMA DT keterampilan tata busana dari Dosen UNESA

Inovasi Bimbingan Klasikal

Mengimplementasikan teknologi AR dalam Bimbingan Klasikal.

Rabu, 28 Januari 2026

Isi Kepala yang Tak Pernah Kuceritakan

Pengantar

Cerita ini tentang seseorang yang terlihat baik-baik saja, tapi sebenarnya menyimpan banyak hal sendirian. Marah, kecewa, dan rasa tidak dipahami ia pendam lama-lama, tanpa pernah benar-benar dikeluarkan. Dari luar, tidak ada yang aneh. Tapi di dalam kepalanya, emosi itu pelan-pelan membentuk cara berpikir dan mendorongnya menyusun rencana yang ia anggap sebagai solusi. Cerita ini mengajak kita melihat bahwa saat emosi tidak diolah dengan sehat, keputusan yang diambil pun bisa menjauhkan kita dari jalan yang sebenarnya kita butuhkan.

Sejak kecil, ia terbiasa menyimpan banyak hal.
Kemarahan, kecewa, rasa tidak dipahami—semuanya disimpan rapi, seolah jika cukup lama dipendam, rasa itu akan hilang dengan sendirinya.

Tapi waktu tidak pernah benar-benar menghapus apa pun.
Ia hanya menumpuk.

Tahun demi tahun berlalu, dan tumpukan itu berubah menjadi pikiran-pikiran yang berisik.
Tentang siapa yang salah.
Tentang luka yang tak pernah diakui.
Tentang rasa bersalah yang bahkan bukan sepenuhnya miliknya.

Di kepalanya, ia mulai menyusun sesuatu.
Bukan secara tiba-tiba.
Semua terasa logis.
Teratur.
Rapi.

Ia menyebutnya pembalasan.
Kadang ia menyebutnya penebusan dosa.
Kadang ia merasa, “Ini satu-satunya cara agar semuanya selesai.”

Di catatan ponselnya, kalimat-kalimat panjang tersusun.
Tentang masa lalu.
Tentang rasa sakit.
Tentang alasan mengapa semua ini “harus” dilakukan.

Semakin rapi rencananya, semakin ia merasa benar.

Namun suatu malam, saat membaca ulang tulisannya, ada satu hal yang membuatnya berhenti.
Ia menyadari sesuatu yang sederhana tapi menampar:
tidak ada satu pun bagian dari rencana itu yang benar-benar membuatnya tenang.

Yang ada hanya kemarahan yang dibungkus alasan.
Luka yang dipoles kata-kata.

Untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri:
Kalau ini penebusan dosa, kenapa rasanya semakin gelap?

Ia menutup layar.
Duduk lama dalam diam.
Dan akhirnya mengakui satu hal yang selama ini ia hindari:
yang ia butuhkan bukan pembalasan,
melainkan pertolongan.

Keesokan harinya, langkahnya pelan menuju ruang yang selama ini ia lewati begitu saja.
Ia tidak membawa rencana.
Tidak membawa pembenaran.

Hanya membawa keberanian kecil untuk berkata,
“Saya tidak baik-baik saja.”

Dan untuk pertama kalinya,
ia memilih menyelamatkan dirinya sendiri.

Rabu, 21 Januari 2026

Merbabu: Sebelum Langkah Pertama


(Pra Pendakian)

Ajakan naik gunung datang dari anak pertama saat ia menikmati libur akhir tahun pondoknya. Kali ini, ajakan itu tidak langsung saya iyakan. Tidak seperti Agustus lalu, ketika libur semester genap dan ia mengajak naik Gunung Lawu, yang langsung saya setujui tanpa banyak pertimbangan.

Alasannya sederhana tapi krusial: cuaca.
Dalam beberapa hari terakhir, cuaca ekstrem kerap terjadi di gunung-gunung. Hujan deras disertai angin kencang menjadi kabar yang hampir setiap hari saya ikuti dari berbagai media. Apalagi Merbabu, gunung yang sejak awal sudah saya duga akan menjadi tujuan pendakian pilihan anak pertama untuk mengisi liburan akhir tahun.

Bahkan sebelum liburan dimulai, saya sudah rajin memantau kondisi cuaca Merbabu. Dari unggahan teman-teman pendaki, terlihat jelas hujan lebat dan angin kencang yang mampu merobohkan tenda di sabana. Ada pula kabar duka tentang seorang pendaki perempuan yang meninggal dunia akibat sambaran petir di jalur Suwanting.

Semengasyikkan apa pun naik gunung, keselamatan dan kenyamanan tetap harus menjadi pertimbangan utama. Dan dalam hal ini, cuaca adalah faktor yang tidak bisa ditawar.

Baru di hari kelima liburan, saya akhirnya mengiyakan ajakan Khansa. Itu pun dengan satu catatan penting: jika sampai di basecamp hujan turun deras dan langit terlihat gelap, maka rencana pendakian akan dialihkan. Dalam pikiran saya, alternatifnya adalah camping santai di kawasan Ayana Gedong Songo, Semarang.

Seperti biasa, kami tidak berangkat sendirian. Anak kedua saya, Yasmine, yang masih kelas 5 MI, sengaja saya ajak ikut. Turut serta pula “pendaki legend” keluarga kami, Mbah Agung, yang selalu bisa diandalkan untuk mengawal selama pendakian. Ditambah dua pendaki penerus, Mas Falaah dan Kak Syita, rombongan terasa lebih lengkap dan tenang.

Rencana awal pendakian sebenarnya Sabtu, 27 Desember. Namun karena perlu melengkapi dan memastikan kesiapan peralatan, keberangkatan diundur satu hari menjadi Ahad, 28 Desember 2025. Keputusan ini semakin mantap karena prakiraan cuaca tanggal 27, 28, dan 29 Desember menunjukkan kondisi berawan hingga hujan ringan.

Pendaftaran pendakian Gunung Merbabu harus dilakukan secara daring. Jujur saja, agak merepotkan karena setiap pendaki wajib memiliki akun sendiri di laman resmi, kemudian ketua rombongan mendaftarkan satu per satu anggota. Jalur Selo akhirnya menjadi pilihan, mengingat beberapa basecamp lain (seperti Suwanting) sudah penuh hingga awal tahun baru. Selain itu, dari berbagai video pendaki yang saya lihat, jalur Selo relatif lebih ramah untuk anak-anak.

Namun Merbabu jelas berbeda dengan Lawu. Di Lawu, di beberapa pos bahkan hingga Sendang Drajat masih ada warung. Di jalur Merbabu? Tidak ada sama sekali. Karena mempertimbangkan cuaca yang cepat berubah, pilihan pendakian tektok (naik dan turun di hari yang sama) menjadi keputusan paling rasional.

Setelah rencana matang, saya mengajak anak-anak menyiapkan perlengkapan masing-masing. Saya sampaikan bahwa kami tidak menginap di jalur pendakian, melainkan di basecamp. Meski begitu, tenda tetap dibawa sebagai antisipasi, walaupun pada akhirnya tidak digunakan.

Instruksi saya sederhana:

  • Setiap orang membawa satu senter
  • Satu jas hujan
  • Dua botol air minum @600 ml
  • Dua buah kentang rebus dan dua butir telur sebagai sumber energi selama pendakian

Sebelum berangkat dari rumah, rundown pendakian saya sampaikan kepada anak-anak:

“Pendakian kita tektok. Urutannya begini: kita berangkat menuju basecamp, sampai di sana kita dirikan tenda, makan malam, lalu istirahat untuk menyimpan tenaga. Kita bangun pukul 01.00 dini hari untuk adaptasi dengan udara pegunungan, dan tepat pukul 02.00 pendakian dimulai. Kita naik sampai puncak, lalu langsung turun kembali.”

Dengan rundown itu, saya ingin anak-anak memahami bahwa mendaki gunung bukan sekadar soal sampai puncak, tetapi tentang kesiapan, disiplin, dan menghargai proses.

Semua persiapan ini mungkin terlihat sederhana, namun justru di fase pra pendakian inilah banyak keputusan penting diambil. Pendakian sesungguhnya akan dimulai beberapa jam lagi, saat gelap masih menyelimuti lereng Merbabu, dan langkah pertama kami dari jalur Selo menjadi awal cerita berikutnya.

Rabu, 22 Oktober 2025

Dari Kelas ke Panggung Inovasi: Refleksi Perjalanan di EJIES 2025

Tahun 2025 menjadi salah satu tahun paling berkesan dalam perjalanan profesional saya sebagai pendidik. Saya berkesempatan mengikuti ajang bergengsi East Java Innovative Summit (EJIES) 2025, sebuah kompetisi inovasi pendidikan yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan Jawa Pos dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Kegiatan ini menjadi wadah besar bagi para guru dan tenaga kependidikan di seluruh Jawa Timur untuk menampilkan karya inovatif yang mampu menjawab tantangan dunia pendidikan masa kini.

Tahun ini, tercatat ada 19.721 karya inovasi pendidikan yang dikirimkan oleh peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur. Dari ribuan karya tersebut, dilakukan proses seleksi berlapis untuk menentukan karya terbaik yang layak melaju ke tahap berikutnya. Bersyukur, karya saya yang berjudul “PADI UTAMA (Platform Digital untuk Kesehatan Mental Remaja)” berhasil lolos ke 250 karya terbaik dan diundang untuk mengikuti bimbingan lanjutan di kampus ITS Surabaya.

Pada tahap tersebut, saya mendapat banyak masukan dari para ahli dan mentor tentang cara memperkuat gagasan inovasi, memperjelas dampak sosial, serta merancang keberlanjutan program. Bimbingan ini tidak hanya menajamkan ide, tetapi juga membuka wawasan baru bahwa inovasi di bidang pendidikan tidak selalu harus besar dan kompleks — yang terpenting adalah mampu memberikan solusi nyata bagi kebutuhan peserta didik.

Setelah proses bimbingan, saya kembali menerima kabar gembira: karya PADI UTAMA berhasil lolos ke 50 besar dan masuk ke babak final untuk memperebutkan posisi 30 karya terbaik EJIES 2025. Babak final dilaksanakan di Hotel Grand Mercure Mirama Surabaya, di mana saya berkesempatan mempresentasikan karya saya langsung di hadapan tiga dewan juri. Dalam waktu sekitar 15–20 menit, saya menjelaskan latar belakang ide inovasi, proses pengembangannya, relevansi terhadap isu kesehatan mental remaja, serta dampaknya terhadap dunia pendidikan. Saya juga memaparkan rencana keberlanjutan PADI UTAMA agar tidak berhenti sebagai proyek lomba semata, melainkan bisa terus digunakan oleh sekolah dan siswa dalam jangka panjang.

Karya PADI UTAMA sendiri merupakan platform digital berbasis website yang saya rancang untuk membantu siswa menjaga kesehatan mental secara mandiri. Di dalamnya terdapat fitur skrining dini menggunakan adaptasi skala DASS-21 yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Hasil skrining dapat langsung diunduh dalam bentuk file PDF yang dikirim ke email pribadi siswa. Platform ini juga menyediakan fitur dukungan online dari ahli yang terdaftar, serta Daily Inspirations, kumpulan artikel inspiratif yang mengangkat tema-tema kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis remaja.

Di balik capaian ini, saya menyadari bahwa prosesnya tidaklah mudah. Saya menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk melakukan riset pustaka, berdiskusi dengan rekan sejawat, serta mengembangkan prototipe website bersama tim kecil yang saya bentuk. Tantangan terbesar bukan hanya teknis, tetapi juga menjaga motivasi di tengah padatnya tugas mengajar. Namun setiap kali melihat semangat siswa yang menjadi inspirasi utama saya, saya kembali yakin bahwa karya ini harus terus dilanjutkan.

Sekitar satu bulan setelah tahap final, tepatnya pada Kamis, 28 Agustus 2025, saya menerima undangan resmi untuk menghadiri “Malam Penganugerahan East Java Innovative Summit (EJIES) 2025” di Hotel Grand Mercure Mirama Surabaya. Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Ketika nama saya disebut sebagai salah satu dari 30 karya terbaik EJIES 2025, hati saya bergetar. Saya melangkah ke panggung dengan rasa syukur yang tak terhingga untuk menerima plakat, piala, dan papan hadiah sebesar Rp 50.000.000,00 — bukan semata karena nilai materialnya, tetapi karena apresiasi terhadap kerja keras, kerja cerdas, dan kerja penuh makna yang telah saya jalani.

Pengalaman ini memberi saya pelajaran berharga bahwa inovasi lahir dari kepedulian dan keberanian untuk mencoba hal baru. PADI UTAMA bukan sekadar karya digital, melainkan bentuk nyata komitmen saya untuk mendukung kesehatan mental remaja Indonesia. Saya berharap platform ini terus berkembang dan menjadi bagian dari transformasi pendidikan yang lebih humanis, berkesadaran, dan berkelanjutan.

Jumat, 17 Oktober 2025

🌱 Strategi dan Aktivitas Guru yang Mewujudkan Pembelajaran Mendalam di Kelas

Catatan Pendampingan OJT Pelatihan Pembelajaran Mendalam

Pendahuluan

Selama pendampingan On the Job Training (OJT) Pelatihan Pembelajaran Mendalam Tahap 1 tingkat SMA Kabupaten Ponorogo, saya mengamati beragam praktik guru yang mulai bertransformasi dalam cara mengajar. Dari kegiatan diskusi, observasi kelas, dan refleksi bersama, tampak bahwa pembelajaran mendalam bukan hanya soal model atau metode, tetapi tentang kesadaran guru dalam menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna dan menggembirakan bagi siswanya.

Tulisan ini merangkum 21 strategi dan aktivitas guru yang menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip pembelajaran mendalam diterapkan dalam praktik. Setiap strategi disertai uraian singkat, prinsip dan pengalaman belajar yang dikuatkan, serta contoh konkret yang memunculkan perubahan nyata.

Sekilas tentang Pembelajaran Mendalam

Pembelajaran mendalam menekankan keterlibatan utuh antara guru dan siswa dalam proses belajar yang mengembangkan tiga ranah utama:

  1. Berkesadaran (Mindful): guru dan siswa sama-sama hadir secara sadar, memahami tujuan belajar, dan reflektif terhadap prosesnya.

  2. Bermakna (Meaningful): materi dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata, sehingga siswa memahami alasan di balik apa yang mereka pelajari.

  3. Menggembirakan (Joyful): suasana belajar positif, penuh apresiasi, dan memberi ruang ekspresi yang membuat siswa merasa aman untuk tumbuh.

Tabel Strategi & Aktivitas Guru yang Mewujudkan Pembelajaran Mendalam

*Catatan: Tabel ini disusun berdasarkan hasil pengamatan, refleksi guru, serta diskusi kelompok selama OJT Pembelajaran Mendalam Tahap 1 tingkat SMA Ponorogo.

Refleksi dan Analisis

Dari hasil pengamatan ini terlihat bahwa pembelajaran mendalam tumbuh dari tindakan kecil yang dilakukan guru dengan kesadaran penuh.
Ketika guru memberi ruang refleksi, memberi pilihan dalam belajar, atau membangun suasana menyenangkan, siswa tidak hanya memahami pelajaran mereka menemukan makna dan kegembiraan dalam belajar.

Strategi seperti Project-Based Learning, Problem-Based Learning, dan Inkuiri Kolaboratif memperlihatkan bagaimana pembelajaran dapat menjadi lintas disiplin, menghubungkan berbagai bidang ilmu dan menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, serta reflektif pada siswa.

Implikasi bagi Guru dan Sekolah

  • Guru dapat menggunakan tabel ini sebagai alat refleksi pribadi, untuk menilai sejauh mana praktik di kelas sudah selaras dengan prinsip pembelajaran mendalam.
  • Sekolah dapat menjadikannya instrumen monitoring praktik baik guru, sekaligus bahan diskusi dalam forum MGMP internal.
  • Tabel ini juga dapat menjadi acuan refleksi peserta untuk tahap IN-2.
Penutup

Pembelajaran mendalam tidak dimulai dari metode yang rumit, tetapi dari kesadaran guru dalam menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna dan menggembirakan.
Refleksi dari pendampingan OJT ini memperlihatkan bahwa perubahan pendidikan sejati terjadi di ruang kelas — ketika guru hadir, sadar, dan tulus menemani proses belajar siswa.

Semoga catatan ini menjadi inspirasi bagi para guru untuk terus belajar, berinovasi, dan menghadirkan pembelajaran yang lebih dalam maknanya bagi setiap anak Indonesia. 

Minggu, 01 Desember 2024

Guru BK Mampu Menerapkan Disiplin Positif melalui Konseling Realitas

Konseling realitas (Reality Therapy) yang dikembangkan oleh William Glasser dapat memainkan peran penting dalam disiplin positif di sekolah. Pendekatan ini berfokus pada membantu siswa untuk memahami dan mengubah perilaku mereka dengan cara yang lebih konstruktif, berdasarkan pemenuhan kebutuhan dasar mereka dan pengambilan tanggung jawab atas pilihan mereka sendiri. Dalam konteks disiplin positif, konseling realitas mendekati kedisiplinan tidak melalui hukuman atau ancaman, melainkan dengan mengajak siswa untuk merefleksikan perilaku mereka, memahami konsekuensi dari pilihan mereka, dan mengambil langkah untuk memperbaiki diri.

Berikut adalah beberapa cara konseling realitas mampu mendisiplinkan siswa dalam kerangka disiplin positif:

1. Menekankan Tanggung Jawab Pribadi

Salah satu prinsip utama dalam konseling realitas adalah bahwa setiap individu memiliki kekuasaan untuk mengubah dirinya sendiri. Dalam hal ini, siswa diajak untuk menyadari bahwa mereka memiliki kontrol penuh terhadap perilaku mereka, dan bahwa mereka bertanggung jawab atas pilihan yang mereka buat.

  • Dalam konteks disiplin positif, guru atau konselor tidak akan memaksakan perubahan perilaku kepada siswa, tetapi akan membantu siswa untuk mengenali pilihan yang mereka buat dan konsekuensi dari pilihan tersebut.
  • Dengan demikian, kedisiplinan muncul dari dalam diri siswa, bukan karena takut dihukum, tetapi karena mereka memahami bahwa mereka memiliki kontrol atas perilaku mereka dan dapat memilih untuk bertindak lebih baik.

2. Mengevaluasi Kebutuhan Dasar Siswa

Glasser berpendapat bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh lima kebutuhan dasar: belonging (rasa diterima), power (kekuatan), freedom (kebebasan), fun (kesenangan), dan survival (keamanan). Dalam konseling realitas, seorang konselor atau guru akan membantu siswa untuk mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi yang mungkin mendorong perilaku negatif mereka.

  • Sebagai contoh, seorang siswa yang sering berperilaku mengganggu di kelas mungkin merasa kurang diterima (belonging) oleh teman-temannya atau mungkin merasa tidak memiliki kendali (power) atas situasi mereka.
  • Dengan membantu siswa memahami kebutuhan dasar mereka, konseling realitas dapat mengarahkan siswa untuk mencari cara-cara yang lebih positif untuk memenuhi kebutuhan tersebut tanpa harus melanggar aturan atau berperilaku buruk.

3. Menggunakan Teknik Pemecahan Masalah

Konseling realitas berfokus pada pemecahan masalah dan pengambilan keputusan yang bijak. Ketika seorang siswa melakukan pelanggaran, guru atau konselor akan membantu siswa untuk merefleksikan masalah yang dihadapi dan mencari solusi alternatif yang lebih baik.

  • Dalam hal ini, konselor tidak memberikan solusi langsung, tetapi mengajak siswa untuk berdiskusi dan mengeksplorasi pilihan-pilihan mereka. Mereka akan diminta untuk memikirkan konsekuensi dari tindakan mereka dan apa yang bisa mereka lakukan untuk memperbaikinya di masa depan.
  • Teknik ini tidak hanya membantu siswa mengubah perilaku negatif, tetapi juga mengajarkan mereka keterampilan pengambilan keputusan yang akan berguna dalam kehidupan mereka secara keseluruhan.

4. Fokus pada Perubahan Perilaku, Bukan pada Penyalahannya

Dalam konseling realitas, fokusnya adalah pada perubahan perilaku, bukan pada penyalahannya. Jika seorang siswa melanggar aturan, konselor atau guru akan berfokus pada bagaimana membantu siswa memperbaiki perilaku mereka, bukan menghukum atau menyalahkan mereka.

  • Pendekatan ini sejalan dengan prinsip disiplin positif yang menghindari hukuman fisik atau ancaman. Sebaliknya, pendekatan ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperbaiki kesalahan mereka melalui pemahaman dan pengelolaan diri.
  • Siswa didorong untuk mengambil tanggung jawab atas perilaku mereka dan berkomitmen untuk memperbaikinya dengan cara yang lebih konstruktif.

5. Meningkatkan Keterlibatan Siswa dalam Proses Disiplin

Konseling realitas sangat mengutamakan keterlibatan aktif siswa dalam proses konseling. Alih-alih memberi instruksi atau memaksakan disiplin, guru atau konselor mengajak siswa untuk berpartisipasi dalam perencanaan dan penyelesaian masalah terkait perilaku mereka.

  • Dengan melibatkan siswa secara langsung dalam proses disiplin, mereka merasa lebih dihargai dan memiliki kontrol lebih besar atas tindakan mereka, yang mendorong mereka untuk bertanggung jawab atas perubahan perilaku mereka.
  • Pendekatan ini membangun rasa percaya diri siswa dan meningkatkan kesadaran diri mereka, yang penting dalam pembentukan disiplin yang datang dari dalam diri mereka.

6. Menciptakan Lingkungan yang Mendukung

Dalam konseling realitas, guru atau konselor berperan sebagai pendengar yang empatik dan memberikan dukungan dalam proses perubahan perilaku siswa. Ini menciptakan lingkungan yang lebih mendukung dan mengurangi perasaan ketakutan atau kecemasan yang sering muncul akibat hukuman.

  • Siswa merasa lebih aman untuk mengungkapkan perasaan mereka dan bekerja sama dengan guru untuk memperbaiki perilaku mereka, yang mendukung penerapan disiplin positif di sekolah.

7. Mendorong Penghargaan terhadap Kebaikan

Konseling realitas juga melibatkan penguatan positif terhadap perubahan perilaku siswa. Guru atau konselor memberikan pujian atau penghargaan ketika siswa berhasil memperbaiki perilaku mereka.

  • Ini sejalan dengan prinsip disiplin positif yang lebih menekankan pada penguatan perilaku baik daripada menghukum perilaku buruk. Pujian yang diberikan akan memotivasi siswa untuk terus berperilaku positif dan menjadi lebih percaya diri dalam mengambil keputusan yang baik.

Secara keseluruhan, konseling realitas memberikan pendekatan yang lebih humanis dan konstruktif dalam mendisiplinkan siswa. Dengan berfokus pada pengambilan tanggung jawab pribadi, penyelesaian masalah, dan pemenuhan kebutuhan dasar, konseling realitas membantu siswa memahami mengapa mereka berperilaku dengan cara tertentu, serta memberikan mereka kesempatan untuk memperbaiki perilaku mereka secara positif, yang pada gilirannya mendukung terciptanya disiplin positif di lingkungan sekolah.

Inovasi Media dalam Layanan Bimbingan dan Konseling

Di tengah perkembangan zaman yang serba digital, layanan bimbingan dan konseling (BK) di sekolah memerlukan inovasi untuk tetap relevan dan efektif dalam mendukung perkembangan siswa. Salah satu bentuk layanan yang sering dijumpai di sekolah adalah bimbingan klasikal, yang biasanya dilakukan secara tatap muka di dalam kelas. Namun, pelaksanaan bimbingan klasikal ini tidak selalu berjalan lancar dan optimal. Banyak guru BK yang mengeluhkan terbatasnya jadwal untuk memberikan layanan bimbingan klasikal secara rutin. Bahkan, beberapa sekolah mengalami kendala dalam menetapkan jadwal bimbingan klasikal yang memadai, seperti yang terjadi di SMAN 1 Sampung, di mana hanya beberapa kelas yang mendapatkan kesempatan bimbingan klasikal.

Bimbingan klasikal memiliki peran strategis dalam membantu siswa mengenali potensi diri, mengembangkan karakter, serta menyediakan informasi penting tentang lingkungan sosial, pendidikan, dan karier. Tanpa kesempatan yang cukup untuk mengakses layanan bimbingan klasikal, guru BK akan kesulitan dalam melakukan asesmen terhadap kebutuhan dan karakteristik unik masing-masing siswa. Oleh karena itu, penting bagi guru BK untuk memanfaatkan segala strategi dan media yang ada untuk memastikan bimbingan klasikal dapat berjalan dengan efektif dan efisien.

Tantangan di Era Digital

Di era digital ini, generasi siswa yang kita hadapi dikenal dengan sebutan "generasi net" atau generasi yang tumbuh dengan teknologi digital. Mereka tidak hanya mampu mengakses informasi dengan cepat dari berbagai sumber, tetapi juga sangat terbiasa dengan penggunaan multimedia dan media sosial. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi guru BK untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi guna mengoptimalkan layanan bimbingan klasikal.

Google Sites, sebuah platform pembuatan website yang mudah diakses dan digunakan, menjadi salah satu solusi inovatif yang dapat digunakan oleh guru BK. Platform ini memungkinkan guru BK untuk membuat media bimbingan klasikal yang tidak hanya dapat diakses selama pertemuan di kelas, tetapi juga dapat diakses oleh siswa kapan saja dan di mana saja melalui perangkat mobile mereka.

Manfaat Google Sites dalam Bimbingan Klasikal

Salah satu manfaat utama dari penggunaan Google Sites dalam layanan bimbingan klasikal adalah fleksibilitas waktu dan akses. Dengan menggunakan Google Sites, guru BK dapat mengunggah materi bimbingan, gambar, animasi, video, dan berbagai sumber daya lainnya yang dapat diakses oleh siswa melalui smartphone mereka. Ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk mendapatkan informasi yang diperlukan di luar jam bimbingan kelas, sehingga proses bimbingan dapat berjalan secara berkelanjutan.

Selain itu, integrasi Google Sites dengan layanan Google lainnya, seperti Google Forms, memungkinkan guru BK untuk melakukan asesmen dan evaluasi secara lebih mudah dan efektif. Guru BK dapat mengunggah kuis atau survei untuk menilai kebutuhan dan perkembangan siswa, serta mengumpulkan data yang diperlukan untuk merencanakan program bimbingan yang lebih tepat sasaran.

Pengembangan Media Bimbingan Klasikal Berbasis Google Sites

Penelitian yang dilakukan untuk mengembangkan media bimbingan klasikal berbasis Google Sites menunjukkan hasil yang sangat positif. Media ini terbukti efektif dalam meningkatkan partisipasi siswa dalam layanan bimbingan klasikal. Berdasarkan uji kelayakan oleh ahli pengguna dan uji lapangan, media web berbasis Google Sites layak untuk digunakan dalam bimbingan klasikal karena memenuhi prinsip-prinsip ACTIONS (Access, Cost, Teaching & Learning Functions, Interactive, Organization, Novelty, Speed) yang dikemukakan oleh Tony Bates (1995).

Dengan menggunakan model pengembangan ASSURE yang mencakup langkah-langkah analisis karakteristik peserta didik, penetapan tujuan media, pemilihan strategi dan materi, serta evaluasi terhadap media yang telah diuji coba, guru BK dapat menciptakan media bimbingan yang tidak hanya menarik tetapi juga efektif dalam mencapai tujuan layanan.

Tantangan dan Solusi

Meskipun media Google Sites menawarkan banyak keuntungan, implementasinya tetap memerlukan perhatian khusus. Guru BK harus memperhatikan kebutuhan siswa, karakteristik mereka yang terbiasa dengan teknologi, serta ketersediaan fasilitas di sekolah. Selain itu, keterampilan dalam menggunakan teknologi juga menjadi faktor penting yang harus dimiliki oleh guru BK agar dapat memanfaatkan media ini dengan maksimal.

Namun, di balik tantangan tersebut, inovasi ini memiliki potensi besar untuk mengubah cara layanan bimbingan klasikal diselenggarakan. Guru BK yang cakap dalam memanfaatkan teknologi akan mampu meningkatkan kualitas pelayanan dan memenuhi kebutuhan siswa di era digital ini.

Kesimpulan

Bimbingan klasikal yang sebelumnya terbatas oleh jadwal dan waktu kini dapat diperluas dan dioptimalkan dengan penggunaan media berbasis teknologi, seperti Google Sites. Melalui media ini, siswa dapat mengakses materi bimbingan kapan saja, di mana saja, dan dengan cara yang menyenangkan. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan partisipasi siswa, tetapi juga memungkinkan guru BK untuk memberikan layanan yang lebih efektif, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan zaman. Dengan demikian, guru BK dapat terus berperan sebagai fasilitator yang mendukung kemandirian siswa dalam mengembangkan potensi mereka, sekaligus menjadi profesional yang siap menghadapi tantangan pendidikan di abad 21.

Dengan semakin berkembangnya teknologi, sudah saatnya guru BK memanfaatkan berbagai platform digital untuk memberikan pelayanan yang lebih baik dan lebih relevan bagi siswa. Penggunaan Google Sites adalah langkah awal yang cerdas dalam mewujudkan layanan bimbingan klasikal yang lebih efektif, modern, dan responsif terhadap kebutuhan siswa.

Tulisan ini merupakan resume dari artikel penulis yang telah terbit pada jurnal Nusantara of Research, https://ojs.unpkediri.ac.id/index.php/efektor/article/view/13797

Sabtu, 30 November 2024

Resiliensi Remaja: Kunci Menuju Indonesia Emas 2045

Visi Indonesia Emas 2045 menandai 100 tahun kemerdekaan Indonesia, dengan harapan negara ini menjadi bangsa yang maju, sejahtera, berkeadilan, dan berdaya saing global. Salah satu elemen kunci dalam mencapai visi ini adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, berdaya saing, dan mampu mengatasi tantangan globalisasi serta disrupsi teknologi. Dalam konteks ini, resiliensi atau kemampuan remaja untuk bertahan dan pulih dari kesulitan menjadi hal yang sangat penting. Tanpa resiliensi yang kuat, generasi muda Indonesia berisiko terhambat dalam mengatasi tantangan dan tidak dapat memanfaatkan peluang yang ada. Artikel ini akan membahas pentingnya resiliensi dalam mempersiapkan remaja untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045 dan bagaimana pendidikan serta pengembangan karakter dapat memperkuat ketahanan mental mereka.

Apa Itu Resiliensi?

Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bangkit kembali dan beradaptasi setelah mengalami kesulitan. Pada remaja, resiliensi menjadi kunci untuk menghadapai tantangan hidup yang sering kali datang dalam bentuk tekanan akademik, konflik sosial, atau perubahan emosional yang besar. Remaja yang resilien mampu mengelola emosi mereka, belajar dari kegagalan, dan tetap fokus pada tujuan jangka panjang mereka. Sebaliknya, remaja yang kurang resilien cenderung merasa terpuruk dan kesulitan untuk kembali bangkit setelah menghadapi kegagalan.

Peran Resiliensi dalam Mencapai Indonesia Emas 2045

Untuk mencapai Indonesia Emas 2045, kualitas SDM Indonesia harus meningkat secara signifikan, terutama dalam kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman dan tantangan global. Dalam hal ini, resiliensi remaja memegang peranan penting. Generasi muda yang memiliki ketahanan mental yang baik akan lebih siap untuk bersaing secara global. Resiliensi tidak hanya membantu remaja untuk mengatasi kesulitan hidup sehari-hari, tetapi juga memainkan peran besar dalam mereka menghadapi tantangan di dunia pendidikan, dunia kerja, dan masyarakat.

Resiliensi membantu remaja untuk tetap termotivasi meskipun menghadapi rintangan. Mereka yang resilien cenderung memiliki lebih banyak peluang untuk berkembang dan berinovasi, yang sangat dibutuhkan dalam dunia yang penuh ketidakpastian dan perubahan cepat. Di era Industri 4.0 dan globalisasi, kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan teknologi dan sosial sangat penting. Remaja yang resilien mampu mengatasi perubahan ini dengan lebih baik dan memanfaatkan peluang untuk berkembang, bahkan dalam situasi yang penuh tantangan.

Pendidikan Sebagai Katalisator Resiliensi

Pendidikan memainkan peran penting dalam mengembangkan resiliensi remaja. Mengingat tantangan besar yang dihadapi generasi muda Indonesia, seperti kecemasan, depresi akibat dampak negatif media sosial, serta kesulitan dalam beradaptasi dengan cepatnya perubahan teknologi, pendidikan harus menyediakan tidak hanya pengetahuan akademik, tetapi juga pengembangan keterampilan hidup (life skills) dan pendidikan karakter.

Pengembangan resiliensi dapat dimulai dengan membekali remaja dengan keterampilan sosial, pengelolaan emosi, berpikir kritis, dan pemecahan masalah. Pendidikan yang berfokus pada pengembangan karakter akan membantu remaja belajar untuk mengelola stres, memahami emosi mereka, dan melihat kesulitan sebagai kesempatan untuk berkembang, bukan sebagai hambatan.

Beberapa pendekatan yang dapat digunakan oleh pendidik untuk menumbuhkan resiliensi adalah melalui teknik mindfulness dan sosiodrama. Program berbasis mindfulness, misalnya, telah terbukti efektif dalam membantu remaja meningkatkan perhatian, mengelola stres, dan memperkuat ketahanan mental mereka. Teknik bermain peran atau sosiodrama juga membantu remaja untuk belajar berempati, mengatasi konflik, dan menghadapi tantangan secara konstruktif.

Resiliensi sebagai Kunci Inovasi dan Produktivitas

Selain membantu remaja mengatasi kesulitan pribadi dan sosial, resiliensi juga berperan besar dalam mengembangkan inovasi dan produktifitas. Di dunia yang semakin terhubung ini, perubahan teknologi dan sosial terjadi dengan sangat cepat. Oleh karena itu, generasi muda Indonesia perlu memiliki kemampuan untuk beradaptasi, belajar dari kegagalan, dan terus berinovasi.

Remaja yang resilien lebih mampu mengatasi tantangan yang ada, baik dalam dunia pendidikan maupun dalam dunia kerja. Mereka akan lebih terbuka terhadap pendekatan baru, siap untuk belajar hal-hal baru, dan tidak takut untuk gagal. Dengan karakter ini, mereka akan dapat berinovasi dan meningkatkan produktivitas mereka, yang pada akhirnya akan berkontribusi pada kemajuan bangsa.

Tantangan Sosial dan Ekonomi: Resiliensi Sebagai Solusi

Selain tantangan akademik dan teknologi, banyak remaja Indonesia yang menghadapi kondisi sosial dan ekonomi yang kurang mendukung. Resiliensi sosial, yaitu kemampuan untuk mengatasi kesulitan dalam kehidupan pribadi atau masalah yang berkaitan dengan lingkungan sosial, menjadi sangat penting. Remaja yang resilien dapat mengatasi tantangan seperti kesulitan keluarga, tekanan teman sebaya, dan kondisi ekonomi yang tidak mendukung, serta mampu berkontribusi secara positif di masyarakat.

Ketahanan sosial dan emosional ini penting untuk membentuk remaja yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi dalam kondisi yang penuh tantangan.

Membangun Generasi Resilien untuk Indonesia Emas 2045

Untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, pengembangan resiliensi remaja harus menjadi bagian integral dari kebijakan pendidikan dan program-program pengembangan karakter. Pemerintah, sekolah, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan resiliensi pada remaja. Melalui pendidikan yang mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan keterampilan hidup dan karakter, Indonesia akan menciptakan generasi muda yang tidak hanya tangguh, tetapi juga inovatif dan mampu bersaing di tingkat global.

Dengan generasi muda yang resilien, adaptif, dan inovatif, Indonesia akan memiliki modal manusia yang kuat untuk menghadapi tantangan masa depan dan mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045. Sebuah bangsa yang tidak hanya maju dalam bidang teknologi dan ekonomi, tetapi juga mampu menjaga kesejahteraan sosial dan mental warganya.

Tulisan tersebut merupakan intisari dari artikel prosiding yang saya kirimkan dalam Seminar Nasional Manajemen Pendidikan 2024 Departemen Administrasi Pendidikan-Prodi S3 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Malang